Kamis, 18 April 2013

Tingkatkan Harga saham melalui CSR


Tingkatkan Harga Saham Melalui CSR

Oleh:  Maria R. Nindita Radyati, PhD
Secara logika keuangan, sudah banyak bukti yang menunjukkan CSR dapat meningkatkan keuntungan perusahaan.

Banyak pelaku dan pemerhati tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) belum jelas tentang hubungan antara melakukan CSR dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam hal peningkatan harga saham.

Blackburn (2007) memperkenalkan show me the money model untuk mengetahui logika di balik keuntungan berinvestasi pada CSR. Dalam model ini digambarkan bagaimana perusahaan dapat meningkatkan reputasi, penjualan, dan dapat menurunkan biaya dengan melakukan program keberlanjutan (sustainability) yang sebetulnya merupakan tujuan akhir CSR.

Menurut konsep manajemen keuangan, tujuan perusahaan didirikan adalah untuk meningkatkan nilai para pemegang saham dan pemangku kepentingannya. Apakah yang menjadi indikator peningkatan nilai para pemegang saham ini? Jawabnya adalah peningkatan harga saham.

Tim CSR harus mampu meyakinkan manajemen bahwa harga saham dapat meningkat bila manajemen menyetujui program yang menggunakan keuntungan perusahaan untuk investasi, misalnya untuk membeli mesin pengolah limbah atau membeli mesin dengan teknologi hemat energi. Hal ini adalah tugas paling menantang yang dihadapi tim CSR.

“Green Ranking”

Naik-turunnya harga saham sebenarnya ditentukan oleh jumlah permintaan dan penawaran. Semakin banyak yang berminat membeli saham perusahaan, harga saham akan meningkat. Oleh sebab itu, manajemen harus mempelajari apa saja yang menyebabkan para investor ingin membeli saham sebuah perusahaan.

Sebelum dua kejadian besar, yakni Konferensi Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro (1992) dan peluncuran panduan pelaporan keberlanjutan (sustainability reporting) oleh Global Reporting Initiative (GRI) yang dipergunakan oleh lebih dari 3.000 organisasi, biasanya investor membeli saham cukup melalui analisis atas kinerja keuangan perusahaan.

Namun setelah banyak pelaporan keberlanjutan muncul, ditambah dengan kehancuran bisnis Lehman Brothers tahun 2008, kini para investor (individu maupun institusi) mulai menggunakan kinerja CSR atau keberlanjutan perusahaan untuk menentukan saham mana yang akan mereka beli.

Tahun 2009 Newsweek mengeluarkan indeks green ranking. Indeks ini menyajikan peringkat perusahaan yang memperhatikan jejak karbon, termasuk emisi gas rumah kaca dan penggunaan air, manajemen pengelolaan lingkungan serta pengungkapan (pelaporan keberlanjutan). Kedua hal tersebut merupakan beberapa referensi yang digunakan para analis saham (investor) dalam memilih saham mana yang akan dibeli.

Kesadaran Investor

Para investor mulai sadar bahwa perubahan iklim mengakibatkan air, tanah, mineral, dan bahan bakar fosil yang terbatas jumlahnya menjadi kian mahal. Oleh karena itu, mereka mulai menganalisis bagaimana perusahaan mengatasi hal ini dan bahkan tetap dapat menghasilkan keuntungan dari bisnis mereka.

Terdapat tiga hal utama yang mereka analisis, yakni 1) reputasi perusahaan dalam melakukan CSR, 2) aspek peningkatan penjualan, yakni keunggulan bersaing, dan 3) penghematan biaya melalui peningkatan produktivitas, pengurangan beban operasional dan interupsi bisnis, penurunan biaya rantai pemasok, penurunan biaya modal, serta biaya konsekuensi hukum.

Keunggulan bersaing dapat dicapai melalui inovasi. Misalnya, perusahaan menggunakan kemasan ramah lingkungan dan memproduksi makanan rendah kolesterol, menciptakan kelompok konsumen baru dengan cara memampukan masyarakat mengatasi kemiskinan, yakni penciptaan lapangan pekerjaan dan membuat masyarakat menjadi pemilik usaha yang dibangun, misalkan melalui pembangunan koperasi.

Melalui program CSR tersebut, perusahaan dapat mempunyai hubungan baik dengan masyarakat sekitar dan pemerintah lokal. Jika kepemilikan bisnis (usaha kecil dan menengah) tidak berpusat pada beberapa orang, tetapi oleh masyarakat (melalui koperasi), keberadaan perusahaan akan mereka lindungi.
Karena masyarakat yang dibantu tidak akan melupakan jasa perusahaan dan mereka tidak ingin ada konflik di daerah mereka agar keberlanjutan bisnisnya terjamin. Hal ini dapat menghemat biaya operasional perusahaan dan biaya interupsi bisnis.

Pengelolaan Risiko

Penghematan biaya juga dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas melalui program keselamatan kerja; program pendidikan karyawan untuk meningkatkan jiwa kepemimpinan dan keterampilan; membina hubungan baik dengan karyawan; penghematan listrik; serta pengelolaan risiko bisnis.

Hal ini dapat membangun kebanggaan karyawan, meningkatkan loyalitas, dan mempermudah perusahaan merekrut karyawan baru yang mempunyai kepedulian terhadap keberlanjutan.

Penurunan biaya rantai pemasok dapat dilakukan dengan mengajarkan para pemasok memproduksi bahan baku sesuai standar. Hal ini dapat menjamin keberadaan pasokan yang terjamin mutunya. Ini dilakukan dengan membayar pemasok tepat waktu sehingga dapat membangun kepercayaan mereka dan tidak akan terjadi boikot atas pasokan bahan baku.

Biaya modal dapat diturunkan dengan menjalankan bisnis yang inovatif yang mengatasi persoalan perubahan iklim. Saat ini sangat banyak lembaga keuangan yang bersedia memberikan pinjaman dengan biaya rendah kepada perusahaan-perusahaan seperti ini. Misalnya, mereka berpatokan pada green ranking, panduan principle for responsible investment (PRI) yang dikeluarkan PBB dan dipakai oleh 87 persen dari seluruh manajer investasi di dunia yang turut menyetujui kesepakatan ini.

Biaya konsekuensi hukum dapat diturunkan jika perusahaan menjalankan aturan-aturan yang berlaku, misalnya proper, amdal, dan Undang-Undang (UU) No 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara Pasal 108 dan 109 yang mewajibkan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) untuk menyusun program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, serta PP No 23/2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara Pasal 106 sd 109.

Contoh Sukses

Banyak contoh sukses kegiatan CSR yang dapat meningkatkan keuntungan perusahaan. Misalnya Amanco, sebuah perusahaan di Brasil yang memproduksi plastik PVC menginvestasikan US$ 100.000 untuk membantu program irigasi di 300.000 lahan pertanian kecil di Guatemala, melalui pendidikan dan pelatihan.
Melalui kegiatan ini, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas petani sehingga mereka mampu menjadi konsumen. Secara total penjualan perusahaan ini di tahun 2008 menjadi US$ 4,1 juta, dibanding tahun 2006 yang hanya US$ 800.000.

Perusahaan DQY Ecological yang menghasilkan telur ayam di China mempunyai reputasi atas kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan kerja sehingga memperoleh dana Global Environment Fund (GEF). Lembaga ini mengutamakan investasi pada teknologi bebas polusi dan hutan lestari, serta International Finance Corps (IFC).

Dengan sokongan dana tersebut, perusahaan dapat meningkatkan penjualan dari US$ 600.000 tahun 2002 menjadi US$ 6,7 juta di tahun 2006, padahal saat itu ada wabah SARS dan harga telur yang dijual lebih mahal dari harga telur biasa. Hal ini disebabkan adanya kepercayaan konsumen pada produk perusahaan tersebut yang sudah tertanam.

Dengan demikian, secara logika keuangan sudah banyak bukti yang menunjukkan CSR dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dan pada akhirnya meningkatkan harga saham perusahaan. Jadi CSR sekali lagi adalah investasi jangka panjang yang menguntungkan, bukan sekadar untuk promosi dan produk humas.

*Penulis adalah Direktur Magister Manajemen-Corporate Social Responsibility (MM-CSR) Universitas Trisakti.
Artikel ini dapat pula dibaca di: http://www.sinarharapan.co.id/content/read/tingkatkan-harga-saham-melalui-csr/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar